JAMBI – Masyarakat Sungai Putri wujudkan Rumah Pangan Lestari bersama Universitas Jambi
Di tengah padatnya pemukiman Kota Jambi, sekelompok ibu rumah tangga di Kelurahan Sungai Putri membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk bercocok tanam. Mereka menanam sayuran segar di halaman sempit, bahkan di rak-rak vertikal, menggunakan pupuk dari limbah dapur rumah mereka sendiri. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat Universitas Jambi (UNJA) yang mengusung tema “Urban Farming Berbasis Pemanfaatan Limbah Organik Rumah Tangga untuk Mewujudkan Rumah Pangan Lestari.”
Dari Sampah Dapur Menjadi Sumber Gizi
Kota Jambi memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi, sementara ruang terbuka semakin sempit. Hal ini membuat masyarakat sulit mengakses lahan untuk bercocok tanam. Namun, menurut Irianto, dosen Fakultas Pertanian UNJA sekaligus ketua tim kegiatan, kondisi ini justru menjadi peluang untuk mengembangkan urban farming — pertanian di lahan terbatas yang ramah lingkungan dan berorientasi pada kemandirian pangan.
“Selama ini, sampah dapur hanya dibuang. Padahal, limbah organik rumah tangga bisa diolah menjadi pupuk alami untuk menanam sayuran di rumah,” jelas Irianto. Melalui kegiatan ini, warga diajarkan cara membuat kompos padat dan pupuk organik cair dari sisa sayur, buah, dan bahan dapur lainnya. Pupuk tersebut kemudian digunakan untuk menanam sayuran bernilai gizi dan ekonomi tinggi seperti pakcoy, talesom, dan cabai, dengan sistem hidroponik dan di polybag. Menurut Ardiyaningsih Puji Lestari, anggota tim pengabdian, metode ini sangat sesuai untuk kondisi rumah perkotaan. “Cukup dengan ember bekas, botol plastik, dan rak sederhana, warga bisa menanam sayuran tanpa tanah luas. Hasilnya bisa dipanen setiap minggu,” ujarnya.
🌱 Pendidikan Lingkungan yang Mengubah Pola Pikir
Kegiatan yang berlangsung sejak Mei hingga Oktober 2025 itu melibatkan ibu-ibu PKK Kelurahan Sungai Putri sebagai peserta utama. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) — metode yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku aktif dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari perencanaan, pelatihan, hingga praktik di lapangan. Antusiasme peserta sangat tinggi. Dari total peserta yang diundang, 90 persen hadir secara rutin dalam seluruh sesi pelatihan dan praktik. Bahkan, beberapa di antaranya mulai membuat instalasi hidroponik secara mandiri di rumah.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Nilai rata-rata pre-test peserta meningkat dari 42 menjadi 77 setelah kegiatan berakhir. “Ini bukti bahwa penyuluhan dan pendampingan intensif mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah dan pertanian,” ungkap Yulia Alia, anggota tim lainnya. Selain mengajarkan teknik bercocok tanam, kegiatan ini juga mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan limbah rumah tangga, pengurangan sampah plastik, dan pentingnya gizi keluarga. “Praktik urban farming tidak hanya soal menanam, tapi juga membangun kesadaran bahwa setiap rumah bisa menjadi pusat produksi pangan sehat,” tambah Elis Kartika, anggota tim.
🌾 Rumah Pangan Lestari: Dari Pekarangan untuk Kemandirian Pangan
Program ini juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali konsep Rumah Pangan Lestari (RPL) — program nasional yang mendorong keluarga memanfaatkan pekarangan untuk menanam kebutuhan pangan sehari-hari. Menurut tim pengabdian, penerapan RPL di perkotaan sangat relevan untuk mengatasi dua isu sekaligus: keterbatasan lahan dan penumpukan limbah organik. Dengan mengolah sisa makanan menjadi pupuk, masyarakat tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menghasilkan bahan pangan bergizi dari lingkungan sendiri. Manfaat ekonomi juga mulai dirasakan. Beberapa warga memanfaatkan hasil panen untuk konsumsi rumah tangga, sementara sisanya dijual ke tetangga. “Dari beberapa polybag sayur bisa menghasilkan tambahan uang, sekaligus menekan belanja harian,” ujar Ibu Rahma, salah satu peserta kegiatan. Ia mengaku kini lebih semangat menjaga kebersihan dan memilah sampah organik di rumah karena tahu limbah tersebut bisa diolah menjadi pupuk cair yang berguna.
🌻 Menanam Kesadaran, Menuai Kemandirian
Tim pengabdian UNJA berharap kegiatan ini dapat menjadi model pembelajaran bagi wilayah lain di Jambi. “Urban farming bukan sekadar tren, tetapi gerakan perubahan menuju kota hijau yang mandiri pangan,” kata Irianto menegaskan. Selain menghasilkan pangan sehat, praktik ini juga memberikan manfaat ekologis dengan mengurangi emisi karbon, menjaga kualitas udara, dan mempercantik lingkungan perkotaan. Menurut data evaluasi, sekitar 90 persen peserta berencana melanjutkan praktik urban farming secara mandiri, bahkan sebagian mulai menularkan pengetahuan kepada tetangga dan kelompok masyarakat lain. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Rektor, Ketua LPPM, dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, melalui pendanaan resmi Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2025. Tim berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat terus diperkuat agar gerakan Rumah Pangan Lestari dapat tumbuh di setiap kelurahan di Kota Jambi.
✳️ Dari Rumah Kecil, Mimpi Besar
Melalui praktik sederhana seperti memilah sampah, membuat pupuk cair, dan menanam sayuran di pekarangan, masyarakat tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan tetapi juga pada pelestarian lingkungan. Urban farming di Sungai Putri membuktikan bahwa dari rumah kecil bisa tumbuh mimpi besar: rumah yang lestari, hijau, dan mandiri pangan.
Artikel ini ditulis oleh Tim Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Jambi: Irianto, Ardiyaningsih Puji Lestari, Ermadani, Yulia Alia, dan Elis Kartika.












